Tuesday, 4 December 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (1)


Mesir dikenal sebagai negeri yang memiliki peradaban tertinggi di dunia. Bahkan, sejak dulu, negeri para Firaun ini sudah menghasilkan peradaban yang maju.
Hal itu pula yang akhirnya memantapkan umat Islam saat menguasai negeri seribu menara ini.


Pada masa Islam, negeri Mesir sempat dikuasai oleh sejumlah dinasti. Mulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, hingga Turki Usmani. Bahkan ketika berdiri, sejumlah peradaban dinasti kecil pun yang ada di Mesir tetap berdiri kokoh.


Salah satu dinasti kecil yang mampu menguasai Mesir adalah Dinasti Mamluk. Dinasti ini menjadikan Kairo sebagai pusat kekuasaannya.
Bahkan, ketika berhasil memukul mundur pasukan Timur Lenk, Kairo semakin mantap menjadi pusat kekuatan Mamluk. 


Sang pemimpin, yakni Az-Zahir Saifuddin Barquq, dalam waktu singkat berhasil membangun pusat pemerintahan Dinasti Mamluk di Kairo, sekaligus menjadi penguasa Mamluk pertama.


Seperti halnya dinasti Islam yang pernah berkuasa di Kairo, Mamluk juga banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan megah berarsitektur indah. Salah satunya adalah Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq.


Sebagai penguasa Mamluk di Kairo, Barquq membangun sebuah mausoleum (kompleks pemakaman mewah) yang diperuntukkan bagi keluarga dan keturunannya.
Karena keterbatasan lahan, sepeninggal Barquq salah seorang anaknya yang bernama Faraj berinisiatif untuk mendirikan sebuah kompleks (bangunan) yang luar biasa besarnya di luar kota Kairo bagian utara.

Sunday, 2 December 2012

[FOTO] Tari Sufi



Tari sufi merupakan karya seorang filsuf dan penyair ternama dari Turki, yaitu Maulana Jalaluddin Rumi. Tari ini merupakan bentuk ekspresi dari rasa cinta yang mendalam, kasih dan sayang seorang hamba kepada Tuhan dan Rasulnya.
Gerakan tubuh yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam mengikuti alunan musik, dimana semakin lama, putaran itu semakin cepat. kostum tari dengan rok lebar yang mereka kenakan berkibar indah. Umumnya tarian sufi dilakukan pria secara kelompok, sebagai ekspresi seorang pencari Tuhan saat bertemu dengan sang kekasih, perasaan yang meletup-letup adalah wujud gerak dalam bentuk tari.
Memang, tari sufi lebih dikenal dengan tari khas Turki, tapi di Mesir juga ada tari sufi yang gerakan tidak jauh beda, tapi dengan warna pakaian sedikit bermotif khas Mesir tidak putih polos seperti yang dienakan oleh penari Turki.



Saturday, 1 December 2012

[FOTO] City Of The Dead (Qorrofah)


Dipinggiran ibu kota Kairo terdapat area pemakaman yang sangat luas, kawasan yang membentang di bawah bukit Mukattam ini lebih dari Enam kilo luasnya dan biasa disebut City Of The Dead.
Selain City Of The Dead, penduduk disana juga menyebutnya Qorrofah Kubro, sebuah nama kabilah dari Yaman yang datang pada waktu sahabat Amr Bin Ash menaklukan Mesir.
Sudah menjadi tradisi bahwa Dinasti Mamalik di Mesir menjadikan kawasan luas ini sebagai kuburan bagi sultan dan amir-amirnya, bukan hanya itu, mereka juga membangun Masjid, tempat belajar (Madrasah), bangunan antik untuk menyepi para sufi (Khanqah). Dan Menjadikan tempat ini layaknya kumpulan Istana-Istana yang megah nan Indah.
Namun, sebelum dinasti mamluk berkuasa, lokasi ini pada awalnya merupakan sebuah lapangan pacuan kuda (hippodrome). Kemudian, pada zaman Mamluk awal, lahan tersebut dialih fungsikan menjadi tempat pemakaman bagi para sufi.
Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian, membuat para imam sufi kerap menyepi dan mengasingkan diri ke tempat tersebut. Mereka pun kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat khusus untuk melakukan ritual tasawuf. Sejak itu area ini juga menjadi tempat pemakaman hingga saat ini.









Friday, 30 November 2012

City Of The Dead: Istana-Istana Megah di Atas Kuburan



pinggiran ibu kota Kairo terdapat area pemakaman yang sangat luas, kawasan yang membentang di bawah bukit Mukattam ini lebih dari Enam kilo luasnya dan biasa disebut City Of The Dead.
Selain City Of The Dead, penduduk disana juga menyebutnya Qorrofah Kubro, sebuah nama kabilah dari Yaman yang datang pada waktu sahabat Amr Bin Ash menaklukan Mesir.
Sudah menjadi tradisi bahwa Dinasti Mamalik di Mesir menjadikan kawasan luas ini sebagai kuburan bagi sultan dan amir-amirnya, bukan hanya itu, mereka juga membangun Masjid, tempat belajar (Madrasah), bangunan antik untuk menyepi para sufi (Khanqah). Dan Menjadikan tempat ini layaknya kumpulan Istana-Istana yang megah nan Indah.
Namun, sebelum dinasti mamluk berkuasa, lokasi ini pada awalnya merupakan sebuah lapangan pacuan kuda (hippodrome). Kemudian, pada zaman Mamluk awal, lahan tersebut dialih fungsikan menjadi tempat pemakaman bagi para sufi.
Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian, membuat para imam sufi kerap menyepi dan mengasingkan diri ke tempat tersebut. Mereka pun kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat khusus untuk melakukan ritual tasawuf. Sejak itu area ini juga menjadi tempat pemakaman hingga saat ini.
Di mulai dari sisi utara Qorrafah Kubro tepatnya di jalan sultan ahmad beberapa meter dari jalan Al-Azhar, berdiri sebuah bangunan persegi yang berkubah dan membelah jalan, yakni makam Qonsuh Abu Sa’id, beliau sempat menjadi sultan selama setahun mengantikan sultan Qaytbay sebelum diasingkan ke Alexandria.
Sekitar seratus meter kearah selatan, terdapat bangunan yang lebih besar, Sebuah komlpek yang dibangun pada tahun 1451-1456 M ini mulanya hanya pemakaman indah yang dibangun oleh sultan Inal saat masih menjadi amir, kemudian setelah menjadi sultan, dibangun disekitarnya sebuah Khanqah, madrasah, masjid dan sabil kutab di sekeliling makam. Sultan inal adalah Sultan ke-12 Dinasti Mamluk Burgi.
Disebelah kanan komplek sultan Inal terdapat komplek Amir Qurqumas, bangunannya menyerupai sebuah masjid. Masjid hanya salah satu dari sejumlah banguan yang dibangun di komplek Air Qurqumas karena disamping-samping nya terdapat dapur, gudang penginapan, sumur, kandang ternak dan tempat wudlu.  pada awalnya Qurqumas adalah seorang budak dari Sultan Qaytbay yang kemudian menjadi amir agung dibawah kemimpinan sultan Al-Ghuri.
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke komplek Farag bin Barquq, bangunan masjid ini awalnya adalah khanqah, semacam pondok untuk para sufi. Mulai dibangun pertama kali pada 1400 M oleh Sultan Faraj Ibn Barquq (1382-1399 M) untuk memenuhi permintaan ayahnya yaitu sultan Ad-Dhohir Barquq yang ingin dimakamkan di dekat makam para sufi dan ayahnya di kompleks pemakaman bagian utara (the city of dead). Pembangunannya baru selesai 11 tahun kemudian, tapi setahun sebelumnya sudah ada peresmian yang menghadirkan 40 orang pengikut sufisme.


Bangunan Khanqah ini memiliki dua buah menara kembar, kubah raksasa kembar, dan dua buah pintu masuk kembar yang tepat berada di kedua sisi ujung kanan dan kiri bangunan.
Masjid ini terkenal sebagai masjid terbesar di kawasan itu, hingga sekarang. Sultan Barquq akhirnya dimakamkan di kompleks ini, di dekat makam para sufi dan ayahnya, Anas (1382). Sultan Barquq tercatat sebagai raja Mamluk Burgi pertama yang dimakamkan di kawasan ini.
Menariknya, bangunan ini memiliki banyak ruang tapi tanpa pembatas yang jelas. Sang arsitek mampu membuat ruangan besar yang simetris. Ini bukan bentuk yang lazim pada masa itu.
Bangunan tersebut berbentuk simetris berdenah bujur sangkar dengan ukuran 73 X 73 meter persegi. Tata letak bangunan mengedepankan pola hypostyle dengan sahn (halaman dalam) pada bagian tengah, juga berdenah bujur sangkar.
Tidak jauh dari situ, terdapat komplek sultan Al-asyraf Barsbay, Seperti masjid Barquq, kompleks pemakaman ini terdiri dari makam, madrasah dan Dua sabil kuttab. Bangunan utamanya terlihat elegan. Memiliki Dua ruangan berkubah yang dihubungkan dengan sepasang lorong. Bangunan madrasah memiliki ruangan untuk sultan dan seorang sufi yang menjadi gurunya serta berdampingan dengan kamar para muridnya.
Pada mulanya, Al-Asyraf Abu Nasr Barsbay adalah budak Sirkasia yang dibeli oleh pedagang Yahudi dan dibawa ke Aleppo Syiria. Ia kemudian dibeli oleh Barquq dan dibawa ke Kairo. Ia diberi mandat sebagai pengawal internal di dalam benteng kerajaan.
Di masa pemerintahan Sultan Mu’ayyad Shah, ia diangkat sebagai pangeran dan dipercaya sebagai wakil sultan di Tripoli pada tahun 1418. Berkat jasa Sultan Shalih Muhammad bin Tatr, ia diangkat sebagai wakil sultan di Mesir. Akhirnya, pada tahun 1422 ia menyandang gelar sultan yang memegang tampuk kekuasaan selama 16 tahun.


Beberapa Ratus meter dari komplek sultan Al-Asyraf Barsbay terdapat komplek sultan Qaytbay, Salah satu monumen utama yang bisa dijadikan tolok ukur masa sultan Qaybay  adalah kompleks masjid Qaytbay yang dibangun antara tahun 1472 sampai 1474 M. Sebenarnya kompleks ini terdiri dari masjid, madrasah dan makam pendirinya. Tapi sayangnya, kini tinggal tersisa bangunan masjidnya yang berkubah dan bermenara tunggal.
Di sebelah kiri bangunan ada sabil  kuttab. Sementara sebelah kanan ada menara. Di sisi tenggara ada kubah kecil tapi megah. Di bawah kubah itu terdapat makam pendiri masjid. Ukiran pada kubah tersebut berpola lurus berlapis bintang berukir yang ditumpangkan pada ukiran arabesque bergelombang.
Qaytbay adalah salah satu sultan Barsbay dinasti Mamluk. Pada awalnya, Mamluk adalah sebutan untuk seorang budak. Qaytbay sendiri awalnya dibeli seharga lima puluh dinar. Setelah ditebus, Qaytbay kemudian meniti karir hingga menjadi komandan tentara sampai akhirnya menjadi sultan. Dia memerintah cukup lama, dari tahun 1.468 sampai 1.496 M. Rekornya hanya bisa dipecahkan oleh Nasir Muhammad. Dia terkenal karena kekuatan staminanya dan kehebatan bela dirinya. Prioritas utama pemerintahannya adalah mengembangkan hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani dan promosi perdagangan, terutama dengan Italia.
Sebanarnya masih banyak bangunan bersejarah di daerah ini tapi Lima tempat ini (Dari sultan Inal sampai Sultan Qaytbay) yang paling megah di pemakaman utara kairo.

Tuesday, 27 November 2012

Masjid Sultan Asyraf Barsbay



Pada mulanya, Al-Asyraf Abu Nasr Barsbay adalah budak Sirkasia yang dibeli oleh pedagang Yahudi dan dibawa ke Aleppo Syiria. Ia kemudian dibeli oleh Barquq dan dibawa ke Kairo. Ia diberi mandat sebagai pengawal internal di dalam benteng kerajaan. Di masa pemerintahan Sultan Mu’ayyad Shah, ia diangkat sebagai pangeran dan dipercaya sebagai wakil sultan di Tripoli pada tahun 1418. Berkat jasa Sultan Shalih Muhammad bin Tatr, ia diangkat sebagai wakil sultan di Mesir. Akhirnya, pada tahun 1422 ia menyandang gelar sultan yang memegang tampuk kekuasaan selama 16 tahun.
Di masanya, ia berhasil melumpuhkan perompak Eropa di sekitar Ciprus yang selalu mengganggu pelaut muslim di Mediterania Timur. Ia juga membangun jalur perdagangan dengan Persia (Iran) dan India. Pada masa ini mulai dikenal mata uang al-Ashrafiyyah yang digunakan di wilayah Mesir dan sekitarnya.
Kejayaan Barsbay berakhir pada tahun 1438. Tapi kompleks pemakamannya sudah mulai dibangun pada 1432. Awalnya kompleks ini dimanfaatkan oleh 17 orang Sufi sebagai madrasah yang menyebarkan mazhab Imam Hanafi.
Seperti masjid Barquq, kompleks pemakaman ini terdiri dari makam, madrasah dan 2 sabil kuttab. Bangunan utamanya terlihat elegan. Memiliki 2 ruangan berkubah yang dihubungkan dengan sepasang lorong. Bangunan madrasah memiliki ruangan untuk sultan dan seorang sufi yang menjadi gurunya serta berdampingan dengan kamar para muridnya.
Arsitektur interiornya sangat impresif. Kompleks ini terkenal dengan mozaik lantai marmer yang indah. Keindahannya selaras dengan ketinggian kubah dan ornament-ornamen yang menghiasi interiornya.
Pola ukiran yang menghiasi sisi luar kubah bermotif jalinan bintang. Motif ini terlihat unik dengan bentuknya yang memanjang. Kubah ini diukir dengan sangat teliti. Pola geometri yang sambung menyambung membuat motif bintang menjadi berombak-ombak. Desain ini merupakan pergeseran dari ukiran berpola zigzag yang memang dominant pada masa itu.
Perhatikan sisi ukiran paling bawah dari kubah itu. Ukiran itu seperti motif mawar yang tak sempurna. Menurut para ahli, motif mawar yang tak sempurna itu menunjukkan bahwa pembuatan ukiran itu baru dimulai setelah kubah selesai dibangun, tidak bersamaan dengan pembangunan kubah.
Menara masjid dibangun terakhir setelah bangunan utama selesai. Bentuknya mengikuti gaya Turki utsmani, dengan puncak mengerucut. 
Dari jalan utama, kita disambut oleh pagar besi yang mengelilingi kompleks. Begitu masuk masjid, kita langsung disuguhi pemandangan yang sangat kontras dengan bangunan-bangunan era Mamluk pada umumnya. Tidak seperti kompleks sultan Inal, Qurqumas dan Barquq yang memiliki halaman tak beratap di dalam masjid, masjid ini cenderung memanjang dan sempit. Ada dua ruang utama dalam masjid itu. Keduanya dipisahkan oleh sebuah lorong dengan lantai sedikit lebih rendah. Ruang ini bergaya Yunani-Romawi klasik.
Mihrab masjid ternyata baru ditambahkan pada tahun 1953. Mihrab ini dianggap sebagai salah satu mihrab terbaik di Kairo. Ukiran berpola bintang dipahat di atas gading. Lantainya yang mewah tersusun atas marmer hitam putih, batu kapur merah oranye dan kerang mutiara. Jendelanya berukir semen dengan kaca temaram. Atap yang berwarna-warni menunjukkan bahwa masjid ini telah tersentuh perbaikan di era Turki Utsmani. Kamarnya berdinding jendela dua susun. Yang atas telah direstorasi dengan kaca berwarna bergaya modern.
Di ujung lorong ada sebuah makam. Monumen Barsbay yang terbuat dari marmer ungu dipasang di ruangan melingkar ini. Dekorasi mihrab dibuat lebih menonjol daripada bagian-bagian lain dengan kombinasi marmer dan kerang mutiara. Kubah tampak menjulang ke angkasa. Pencahayaan ruangan mengandalkan sinar matahari yang menembus jendela-jendela tradisional yang tertutup kaca warna-warni.
Di sebelah selatan masjid terdapat kompleks penginapan. Penginapan ini sama dengan penginapan-penginapan yang ada di kompleks Inal, Qurqumas dan Barquq. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India