Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, 19 May 2013

Masjid Ahmad bin Thulun

Dalam sejarah mesir, Ahmad bin thulun adalah seorang yang berani menantang sejarah. Ia adalah keturunan thulun, seorang budak (mamaluk) yang menjadi kepercayaan sultan dinasti abbasiyah di baghdad. Ketika didaulat menjadi gubernur mesir oleh pemerintahan abbasiyah menggantikan ayah tirinya Bak bak al turki 254/858 M, ia melepaskan diri, membentuk sebuah gerakan sparatis dan membangun dinasti thuluniyyah. Dinasti yang bebas dari kungkungan politik pemerintahan abbasiyah pada era al-Mu'tashim billah.

Ahmad bin thulun telah mengangkat derajat kaum sudra (mamalik, budak) yang selama ini hanya menjadi pesuruh dan pembantu kerajaan.

Setelah berhasil menghimpun kekuatan di mesir, langkah pertama yang ia lakukan adalah membangun ibu kota. Ibu kota tersebut di beri nama madinat al-Qathai'. Ia pun membangun istana kerajaannya di atas jabal muqatham. Setelah kota yang diidamkannya itu terwujud, terbesit dalam hatinya untuk membangun sebuah masjid agung di tengah kota.

Jika dilihat dari sisi tata kota, Ahmad bin thulun terinspirasi dengan kota tempat ia tumbuh dewasa, samara,di kawasan irak. Keterpengaruhan Ini bias dilihat dari tata kota yang di atur sendiri oleh Ahmad bin thulun. Ia membagi kota ke dalam bebearapa komplek yang terpisah. Setiap komplek dibangun beberapa rumah. Dan jalan-jalan yang menghubungkan antar komplek yang memutari kota. Persis seperti kota samara.

Said bin katib al-Farghani
Nama ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah pembangunan yang digalakkan oleh Ahmad bin thulun. Betapa tidak, said bin katib al farghani lah yang mewujudkan impian ahmad bin thulun untuk membangun kota. Ia telah berjasa membangun sebuah tampungan air untuk kehidupan masyarakat madinat al-Qathai'. Said bin katib al-faeghani adalah seorang arsitek ulung yang beragama masehi.

Setelah merampungkan proyek madinat al-Qathai', said bin katib al-farghani terkena fitnah. Ia dianggap menjegal kuda yang ditunggangi ahmad bin thulun ketia melakukan sidak di tempat pembangunan madinat al-Qathai'. Karena sentiment agama ia pun dihukum, dicambuk, dan dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika sedang mendekam dipenjara, said  mendengar kabar bahwa ahmad bin thulun berkeinginan membangun masjid terbesar yang ada di mesir yang disangga dengan 300 lebih tiang marmer. Tetapi impian tersebut mustahil diwujudkan kecuali dengan mengambil tiang-tiang marmer yang menyangga gereja-gereja kuno di mesir.

Said bin katib akhirnya menulis surat kepada ahmad bin thulun yang berisi: saya mampu membangunkan anda masjid terbesar di mesir hanya dengan dua tiang untuk menyangga mihrab.

Ahmad bin thulun langsung memanggilnya dan meminta sketsa bangunan yang digambar di atas kulit hewan. Ia puas dengan sketsa yang diberikan dan membebankan proyek yang sangat besar itu di atas pundak said bin katib al-farghani. Selain besar dan tak tertandingi, Ahmad ibn thulun ingin masjidnya tahan api dan tidak hancur saat terkena banjir. Lagi-lagi said bin katib mengiyakan keinginan sang sultan dan menyanggupinya.

Dana yang tak terkira pun dikucurkan dari brangkas pemerintah. Dan sang arsitek mendapat imbalan yang begitu besar, 10000 dinar emas, atas usahanya mewujudkan impian sang sultan.

Arsitektur masjid ahmad bin thulun memang banyak memukau dunia. Corak melengkung yang menghiasi masjid sudah bisa dibangun 2 abad sebelum corak ini berkembang pada arsitektur bangunan di inggris.

bangunan masjid

Tidak ada bukti yang jelas kapan masjid ini mulai dibangun. Namun berdasarkan papan marmer yang ada diarah kiblat, masjid ini rampung pada tahun 265 H/879 M. ahli sejarah memperkirakan pembangunan masjid berlangsung antara 263-265 H. dengan demikian, masjid ahmad bin thulun adalah masjid ke-3 yang di bangun di mesir. Meski demikian, masjid ini bisa dikategorikan masjid tertua yang masih utuh dan konstruk bangunannya tidak berubah.

Sebab, Masjid Amru bin Ash, meski didaulat sebagai masjid pertama yang beridiri di mesir, tapi konstruk bangunannnya sudah tidak asli. Ia sudah mengalami perbaikan berkali-kali terutama pasca kebakaran hebat yang melahap seluruh kota fustat. Masjid yang kedua berdiri adalah masjid al-'askar (169 H). hanya saja masjid ini sudah hancur dan tidak lagi bisa dikenali bentuk dan konstruk bangunannya.

Masjid Ahmad bin thulun berbentuk persegi dengan luas kurang lebih 162,5 x 161,5 m. di tengah masjid terdapat ruangan terbuka tak beratap yang sangat luas. Luasnya sekitar 92,5 x 91,80 m.

Dibagian luar masjid ada ruang-ruangan terbuka tanpa atap (arwiqah) yang mengelilingi masjid, kecuali bagian kiblat. Ruangan-ruangan ini sering disebut dengan ziyadah. Model bangunan seperti ini banyak ditemukan di masjid-masjid kota samara. Masjid mempunyai pintu yang sangat banyak, 42 pintu. 21 diantaranya pintu asli masjid dan sisanya adalah pintu-pintu ziyadah.

Dekorasi bagian dalam masjid sangat indah dan menawan. Ruangan terbuka dalam masjid dikelilingi oleh arwiqah (ruangan-ruangan) di tiga penjuru, selatan, utara dan barat. Setiap ruwaq memiliki tembok besar yang menyerupai tiang. Tembok tersebut penuh dengan kaligrafi-kaligrafi bercorak arabesque. Bagian atas tembok terdapat jendela yang berbentuk seperti mihrab kecil berhiaskan ukiran-ukiran khas arab.

Pada sisi kiblat, terdapat 5 ruwaq yang beratapkan kayu, dengan tembok yang penuh hiasan dari ukiran batu kapur. Tepat dibawah atap terdapat kayu yang memanjang mengelilingi ruwaq qiblat berpahatkan kaligrafi arab corak kufi yang sangat indah. Terpahat di sana surat al-Baqarah dan ali imran.

Ornament-ornamen menariik terdapat di 4 sisi tembok masjid dengan corak yang bermacam-macam. Pada tembok tersebut terdapat 129 jendela yang dikelilingi oleh kaligrafi berbahan kapur.

Pada sisi kiblat, terdapat 5 mihrab kecil dan satu mihrab utama. Mengenai sejarah mihrab-mihrab ini, para sejarawan mempunyai ksimpulan yang berbeda-beda. Sebagian mengatakan bahwa banyaknya mihrab menunjukkan pluralisme madzhab di mesir. Hal yang sama terjadi di masjid umawi di damaskus. Ibn katsir menyebutkan bahwa taqiyudin bin marahil membangun dua mihrab di masjid umawi, hanafi dan hambali.

Su'ad mahir seorang pemerhati bangunan islam mesir mempunyai pendapat lain. Baginya mihrab adalah bukti atau prasasti peresmian pasca renovasi masjid yang telah dilakukan oleh dinasti-dinasti yang pernah berkuasa di mesir. Sebagai bukti pernyataannya, ia menyebutkan ada dua mihrab di masjid Ahmad bin thulun yang dibangun pada masa dinasti fatimiyyah yang bermadzhab syi'ah. Pada konteks yang demikian, pendapat pertama sulit diterima. Sebab masyarakat mesir bisa dikatakan anti terhadap madzhab syi'ah. Meski dinasti fatimiyyah pernah tumbuh di negeri ini.

Adapun mihrab utama dibangun oleh sultan mansur lajin. Mihrab ini penuh dengan hiasan dan ornament-ornamen khas arab. Kaligrafi yang menghiasinya ditulis dengan tinta emas bertuliskan 'la ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah' dengan sangat jelas. Selain itu, mihrab utama juga dipenuhi hiasan dari kaca yang beraneka warna.

Tepat di tengah ruangan terbuka masjid, terdapat kubah yang cukup besar. Kubah tersebut adalah kubah ketiga yang dibangun di tempat yang sama. Kubah pertama dibangun oleh ahmad bin thulun pada tahum 265 H. kubah ini terbakar dan roboh pada masa al-Aziz billah.

Pada tahun 385 H, al-Aziz billah membangun kembali kubah yang dulu hancur. Saat sultan mansur lajin berkuasa, kubah tersebut kembali hancur. Tidak ada sebab yang pasti mengenai hancurnya kubah ini. Sultan pun kemudian membangun kubah itu kembali dan masih bertahan sampai sekarang.

Kubah ini memiliki model yang cukup unik. Di bagian bawah berbentuk persegi dengan empat lubang pintu di setiap sisinya. Tepat di atasnya, terdapat semacam punden berundak bertangga tiga. Punden tersebut dikelilingi oleh jendela yang berbentuk sarang tawon memanjang. Menambah indah arsitektur bersejarah ini. Setelah punden, barulah kubah berbentuk telur itu terpasang. Pada sisi kubah tidak ada ornament-ornamen yang berarti. Hanya tembok berwarna coklat yang polos dengan beberapa jendela kecil.


pada kubah tersebut ada kaligrafi bercorak kufi dengan sangat jelas bertuliskan Qs almaidah ayat 6. kaligrafi ini menandakan bahwa kubah tersebut adalah tempat untuk berwudhu dan bersuci sebagaimana kubah yang terdapat pada masjid Amr bin Ash di fustat.

Bagi para pengunjung masjid Ahmad bin Thulun, barangkali akan melihat pemandangan yang tidak dapat ditemukan di masjid lain. Yaitu model menara masjid Ahmad bin thulun. Menara ini tidak lazim sebagaimana menara masjid bersejarah mesir lainnya. Menara dengan model tangga diluar bukan corak arsitektur mesir. Konon tipe ini mengadopsi menara-menara masjid yang ada di kota samara.

Menara ini mempunyai empat tingkatan. Tingkat pertama berbentuk segi empat. Bagian kedua berbentuk tabung dengan tangga yang melingkarinya. Tingkat ketiga berbentuk segi delapan. Dan bagian atas berbentuk mihrab kecil yang bergelombang.

Jika diperhatikan ada dua corak yang berbeda di keempat tingkat tersebut. Konon tingkat pertama dan kedua dibangun oleh Ahmad bin thulun. Pada bagian ini nyaris tidak ada ornament atau hiasan-hiasan yang berarti.

Sedangkan tingkat ketiga dan keempat dibangun oleh sultan mansur lajin pada tahun 696 H. pada bagian ini, ornament dan hiasan-hiasan khas bangunan arab memenuhi sisi-sisi atas menara.

Al-Maqrizi menyebutkan bahwa di atas menara ada tempat khusus yang digunakan untuk menampung biji-bijian dan makanan burung.

Saturday, 23 February 2013

Masjid Amr bin Ash


Peradaban islam masa lalu selalu meninggalkan warisan yang tak ternilai. Sebagai bukti bahwa islam datang dengan membangun peradaban. Tak terkecuali kisah tentang masuknya islam di bumi fir'aun.
Masjid Amr bin Ash. masjid ini dibangun oleh Amr bin Ash pada tahun 21 H/641 M ketika menyebarkan islam di mesir.
Masjid yang terletak di kota fustat ini adalah masjid pertama yang didirikan di mesir, bahkan di benua afrika.
Selain masjid Amr bin Ash, masjid ini juga seing disebut: masjid Al-Fath, Taj al-Jawami', al-Jami' al-'atiq.
Fustat dipilih sebagai tempat yang tepat untuk berdirinya masjid, karena posisinya yang strategis. Ia terletak di delta sungai nil, tepat di timur laut sungai kebanggan rakyat mesir itu. Atau sekitar 2 mil dari kota kairo.
Fustat adalah daerah yang subur. Air dan bahan makanan dapat diperoleh dengan mudah. meski demikian, tidak ada bangunan yang menancap disana kecuali sisa-sia benteng tentara babilon dan gereja gantung.
Jarak antara masjid dan gereja yang saling berdekatan, mengisyaratkan bahwa islam datang dengan damai dan membawa pesan kedamaian.
Masjid Amr bin Ash dulunya hanya sebuah bangunan kecil. Konon panjang bangunannya sekitar 50 dzira' dan luas 30 dzira', dilengkapi dengan 6 buah pintu besar yang nyaris tanpa ornamen. Lantainya pun masih beralaskan pasir coklat yang kasar.
Keadaan seperti ini berlangsung sampai tahun 53 H/ 672 M. ketika itu mesir dibawah gubernur Maslamah bin Mukhlad al-Anshary (sebelum Khalifah mu'awiyah bin abi sofyan). Masjid sederhana itu penuh sesak dengan jama'ah. Merekapun mengadukan hal itu pada gubernur Maslamah bin Mukhlad al-Anshari.
Tak lama berselang, sang gubernur melayangkan surat kepada khalifah Mu'awiyah. Akhirnya Khalifah mu'awiyah menyambut dengan baik pengaduan itu dan memerintahkan untuk memperlebar bangunan masjid sebelah timur sampai batas kediaman Amr bin Ash.
Pada masa ini Masjid Amr bin Ash mulai bersolek dan mempercantik diri.
Al-Maqrizi menyebutkan bahwa sejak surat tersebut dilayangkan, perhatian damaskus terhadap masjid Amr bin Ash semakin besar. Sejumlah kas negara terus-menerus mengalir. Dinding, langit-langit dan pintu masjidpun akhirnya terukir. Ornament-ornamen khas suasana arab menghiasi tiang-tiang yang berdiri gagah. Lampu-lampu minyak bergantungan menambah suasana masjid menjadi indah dan terlihat megah.
Pasir yang dulu menjadi tempat bersimpuh para jamaah, kini berubah menjadi permadani yang halus dan nyaman.
Khalifah Muawiyah juga memerintahkan untuk membangun empat menara yang menjulang tinggi di masjid kota fustat. Sebagai tempat penyeru ketika adzan dikumandangkan.
Model bangunan menara, sebenarnya adalah cirri khas bangunan suci kerajaan romawi di damaskus. Kemudian diadopsi oleh para arsitek dinasti Umayyah setelah kerajaan romawi dikalahkan oleh tentara islam. Setelah mengalami akulturasi budaya, akhirnya, menara-menara banyak menghiasi masjid peninggalan dinasti arab-islam.
Perluasan kedua.
ketika Abdul Aziz bin Marwan memangku jabatan gubernur Mesir, ia berinisiatif untuk memperluas bangunan masjid di sebelah barat. Sebab bagian timur masjid sudah tidak memungkinkan untuk perluasan.
Lalu ketika Abdullah bin Marwan menjadi gubernur mesir (89 H), ia memerintahkan untuk meninggikan atap masjid. atap masjid yang lama dirasa terlalu rendah. Sehingga para jamaah yang berpostur tinggi seringkali menundukkan kepala ketika memasuki masjid.
Pada tahun 93 H, walid bin Abdul Malik memerintahkan qurrah bin Syarik al-Abbasi seorang arsitek untuk meratakan dan membangun ulang masjid Amr bin Ash. sang arsitek juga membangun mihrab dengan mengadopsi desain mihrab Masjid Nabawi yang dibangun oleh Umar bin Abdul aziz. Yaitu mihrab pertama kali yang dalam sejarah bangunan masjid umat islam. Umar bin Abdul Aziz menjadikan tempat sujud Nabi Muhammad sebagai mihrab yang kemudian diadopsi oleh masjid-masjid di seluruh dunia.
Pada masa dinasti abbasiyah, Shalih bin ali, gubernur mesir ketika membangun 40 tiang tambahan untuk menyangga bangunan masjid yang dibangun dengan megah. Ia juga menambahkan ornament-ornamen tertentu pada gerbang utama masjid menambah keindahan dan menjadi bukti masa keemasan dinasti Abbasiyyah.
Begitu seterusnya, Masjid Amr bin Ash mengalami perbaikan dan perluasan dibawah pengawasan para gubernur yang memangku wilayah Mesir. Sampai pada kekhalifahan Ma'mun,  gubernur Mesir Abdullah bin thahir memperluas bangunan Masjid ini hingga mencapai 120 x 112,5 M. dan sampai sekarang masjid tidak pernah mengalami perluasan lagi, kecuali hanya renovasi dan peremajaan bangunan yang sudah rapuh.
Abdullah bin Thahir juga memasang papan hijau bertuliskan ayat-ayat al-Qur'an terpampang di atas bangunan masjid. ia juga membangun tempat wudhu dan minum bagi para jamaah yang berkunjung di masjid. tempat wudhu tersebut terletak tepat ditengah-tengah masjid.
Jika dicernati sisi depan masjid, kita akan menemukan sebuah garis yang memanjang dari awal gerbang pintu tengah dan berujung di dinding di atas mihrab yang sekarang bediri. Garis tersebut sebagai penanda yang membagi masjid menjadi dua bagian. Bagian pertama yang membujur ke bagian selatan adalah perluasan bangunan yang dibangun oleh Abdullah bin Thahir. Sedangkan bagian yang membentang luas di sisi utara adalah luas asli masjid sebelum proyek perluasan oleh Abdullah bin Thahir tahun 212 H.
Pada masa dinasti Thuluniyah, sebagian besar perluasan yang dibangun Abdyullah bin Thahir pernah mengalami kebakaran termasuk ruwaq di bawah papan hijau (Al-Lauh al-Akhdar). Lalu Khumariyyah bin Ahmad bin thulun memerinahkan untuk membnagun ulang sebagaimana dulu. Pembangunan tersebut menelan biaya sekitar  6400 Dinar. Sebagai bukti peresmian, Khumariyyah menuliskan namanya di sekitar ruwaq berdampingan dengan papan hijau.
Pada masa al-Ikhsidiyyah, masjid Amr bin Ash benar menjadi perhatian utama pemerintah. Dana ribuan dinar dikucurkn untuk menghiasi tiang-tiang masjid dengan ornament-ornamen dari emas dan perak. Ayat-ayat Al-Qur'an ditulis pada dinding-dinding masjid dengan tinta emas. Bahkan Abdullah Al-Maqdisi seorang yang telah berkelana mengelilingi tanah arab menyebutkan bahwa Masjid Amr bin Ash lebih besar dan megah di banding Masjid umayyah di damaskus. Ia juga menjadi bangunan paling mewah yang ada di mesir.
Meskipun era Fathimiyyah masjid resmi pemerintah berpindah ke masjid Al-Azhar, tidak semerta melupakan masjid Amr bin Ash. Al-Maqrizi menuturkan bahwa khalifah al-Aziz billah memerintahkan untuk menyiapkan dana khusus guna perawatan masjid ini.
Sehingga pada tahun 487 H, seluruh atap masjid Amr bin Ash diganti dengan kayu. Pengecatanpun dilakukan berulang-ulang untuk menjaga keelokan masjid.
Masa fatimiyyah mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu, mihrab masjid selalu bertuliskan nama khalifah yang memerintah. Mihrab itu pun terus berganti seiring dengan pergantian khalifah. Diantara mihrab-mihrab tersebut ada 3 mihrab yang masih tersisa dan di abadikan di museum peninggalan-peninggalan islam di Kairo.
Pada masa ini pun, konon ada sekitar 1982 mushaf yang ditulis dengan tinta emas berjajar rapi di rak-rak yang menempel dinding Masjid Amr bin Ash.
Setiap perayaan keagamaan, lebih dari 700 lentera menghiasi seluruh ruangan masjid. dengan lantai beralaskan permadani kualitas terbaik kala itu. Sedangkan pada malam-malam biasa tak kurang dari 100 lentera yang menerangi sisi gelap masjid Amr bin Ash.
Masjid Amr bin Ash terbakar
Pada tahun 564 H masyarakat fustat membakar kota tersebut. Hal ini dilakukan agar pasukan salib tidak sampai menduduki dan menguasai kota fustat. Selama 54 hari, api membara di tengah-tengah kota dan meruntuhkan semua bangunan megah yang pernah berdiri. Diantaranya adalah Masjid Amr bin Ash.
Setelah Shalahuddin Al-Ayyubi mengalahkan tentara salib, kebijakan pertama yang dikeluarkan adalah membangun kembali masjid Amr bin Ash tahun 568 H. puluhan ribu dinar disiapkan untuk membangun kembali masjid kebanggaan masyarakat mesir itu.
Masjid pun akhirnya bisa berdiri seperti sedia kala, dengan mihrab yang megah, dinding penuh dengan khat ayat-ayat al-Qur'an dan tiang-tiang berhias dengan ornament dari emas.  Dan sebagai peresmian secara simbolik, Shalahuddin Al-ayubi menuliskan namanya pada papan yang berada diatas pintu gerbang masjid.
Begitu seterusnya, hingga kekhalifahan berada di tangan dinasti mameluk lalu dinasti usmani masjid ini terus mengalami perbaikan. Sampai datang kolonialis perancis yang menduduki mesir. Keadaan masjid Amr bin Ash tak jauh beda dengan masjid-masjid yang lain. Semua berada diambang kehancuran. Ornament-ornamen hiasan masjid dan atap-atap kayu di curi. Tak luput batu-batu besar yang menyangga bangunan masjid juga dirampas. Bahkan, konon masjid ini hamper roboh.
Pasca kolonialisme berakhir baru kemudian masjid Amr bin Ash mengalami perbaikan. sampai sekarang masjid ini menjadi masjid kebanggaan rakyat mesir. Dan menjadi symbol sejarah masuknya islam di bumi Afrika.
Sejarah mimbar masjid
Setelah masjid berdiri, Amr bin Ash memerintahkan untuk membuat mimbar sebagai tempat khatib menyampaikan khutbah.
Dalam laporan tertulisnya kepada khalifah Umar bin Khattab, Amr bin Ash menuliskan perihal mimbar yang ia buat. Lalu Khalifah Umar mengirim surat yang berisi: tidakkah cukup kau menyampaikan khutbah berdiri, dan jamaah duduk bersila dibawahmu?!
Sejak balasan itu, Amr bin Ash tidak pernah lagi menggunakan mimbar. Bahkan memerintahkan untuk menghancurkannya.
Namun, setelah khalifah Umar wafat, mimbar masjid Amr bin Ash kembali digunakan.
Pada tahun 93 H, khalifah walid bin Abdul malik memerintahkan untuk mengganti mimbar yang dibuat pada Amr bin Ash dengan mimbar yang baru. Pada saat itu, hanya masjid Amr bin Ash yang menggunakan mimbar sebagai tempat khutbah. Masjid yang lain hanya menggunakan tongkat yang dipegang oleh sang khatib kala ia menyampaikan khutbah.
Sampai datang masa Abdul malik bin Musa bin Nusair memerintah mesir. Ia memerintahkan agar semua masjid dibuatkan mimbar khusus sebagaimana mimbar masjid Amr bin Ash.
Tradisi mimbar ini kemudian diikuti oleh masjid-masjid agung yang berada di kawasan benua Afrika seperti Masjid Ahmad bin Thulun, Masjid Al-Azhar, Masjid al-Zaitunah di Tunis dan Masjid Qairuwan.
Di atas mimbar keramat ini, konon ulama-ulama setingkat Imam Syafi'I, imam al-Laits bin Sa'd, Izzuddin bin Abdissalam Ibn Hisyam dan Ibn Hajar Al-Asqalani menyampaikan wejangan-wejangan pelepas dahaga kalbu.
Adapun di ruangan khusus perempuan, disana ada Sayyidah Nafisah yang dengan sangat telaten mengajarkan A-Qur'an dan ajaran islam. serta menjadi tempat mengadu kaum hawa kala itu.
Tidak hanya itu, berawal dari ceramah-ceramah di atas mihrab para pelajar dan santri berkumpul di masjid Amr bin Ash membentuk halaqah ilmiyah yang dipandu oleh seorang syeikh (Syeikh Al-'Amud). Kelak, tradisi inilah yang digunakan di masjid Al-Azhar (400 tahun setelah berdirinya Masjid Amr bin Ash) yang berkembang pesat sampai sekarang dan bahkan menjadi kiblat ulama sunni di dunia.
Namun ada perbedaan yang mencolok antara tradisi keilmuwan di masjid Amr bin Ash dengan Masjid Al-Azhar. Halaqah yang diadakan di masjid Amr bin Ash tidak mendapatkan dana dari pemerintah. Syeikh-syeikh yang mengajar di sana tidak mendapatkan gaji dari pemerintah. Ia lebih seperti lembaga pendidikan yang non formal.
Berbeda dengan Masjid Al-Azhar, Pemerintah menyiapkan dana khusus untuk mendorong perkembangan pendidikan yang di selenggarakan di masjid Al-Azhar. Dan membangun perpustakaan yang sangat besar kala itu di masjid Al-Azhar.
Di masjid Amr bin Ash mereka menyebutnya Zawiyah. Konon istilah ini muncul karena para para masyayikh yang berasal dari kaum sufi, mutakallim dan fuqaha duduk bersandar di bagian-bagian tembok masjid.
Sedangkan di Al-Azhar para masyayikh duduk bersandar di tiang-tiang masjid dan di kelilingi oleh para murid. Sehingga mereka menyebutnya dengan istilah halaqah.
Masjid Amr bin Ash mempunyai beberapa zawiyah tempat mengajar setiap zawiyah dikelola dan di biayai oleh wakaf orang tertentu, diantaranya:
1. Zawiyah Al-Imam Al-Syafi'i. konon dulu imam syafii pernah mengajar di zawiyah ini. Sehingga namanya di abadikan menjadi nama zawiyah. Dikelola dengan harta wakaf sultan Utsman bin shalahuddin al-Ayyubi
2. zawiyah al-Majdiyah. Terletak di bagian depan masjid di samping mihrab inti. Dikelola dengan harta wakaf Majd al-Din Asyraf musa bin al-Adil seorang menteri dan saudara Shalahuddin Al-Ayubi
3. Zawiyah al-Kamaliyah, terletak di samping pintu masjid. dikelola dengan harta wakaf kamaluddin al-Samnudi
4. Zawiyah Al-Shahibiyyah, dikelola oleh tajuddin bin hanna. Zawiyah ini mempunyai dua halaqah: mengajarkan mazhab syafii dan yang lain madzhab maliki.
5.Zawiyah Al-Tajiah. Dikelola dengan harta wakaf Tajuddun al-Sathahi
6. Zawiyah Al-'Alaiyyah,  dikelola oleh harta wakaf 'Alauddin al-Dhariri. Zawiyah ini digunakan untuk melantuntan Al-Qur'an pada momen-momen tertentu.
7. Zawiyah Al-Zainiyyah, dikelola oleh Zainuddin.

Friday, 7 December 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (4-Habis)



Struktur Simetris Al-Faraj
Salah satu aspek yang paling menarik dari struktur bangunan Khanqah ini adalah tidak adanya pembatasan terhadap ruang-ruang yang terdapat pada bangunan tersebut, sehingga sang arsitek mampu untuk merancang sebuah struktur bangunan yang sangat simetris berukuran besar.


Bangunan yang tampak berdiri sendiri ini terlihat menarik dengan adanya dua buah pintu gerbang berhiaskan tiga buah pelengkung pada bagian sisi barat daya dan utara. Posisi kedua pintu gerbang yang berada di bawah menara membuat simetrisitas bangunan menjadi semakin kuat. 



Selain itu, dua buah sabil-kuttab ditempatkan di sisi barat dan selatan bangunan Khanqah. Sabil-kuttab merupakan tempat singgah dan peristirahatan bagi para pelancong yang melewati kawasan itu.



Sebuah anak tangga terdapat pada bagian dinding menara. Para pengunjung bisa mencapai bagian atas menara kembar ini melalui anak tangga tersebut. Dari atas menara ini kita bisa menyaksikan pemandangan indah—selain pemandangan pemakaman—yang terhampar di sekeliling bangunan Khanqah.



Di sisi utara kompleks Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq ini terdapat sebuah lorong beratap yang bagian ujungnya berakhir di makam ayah Sultan Barquq, yakni Anas.

Para sejarawan arsitektur memperkirakan lorong tersebut mungkin dimaksudkan sebagai ruang shalat. Pada bagian tempat shalat ini terdapat kubah kecil, runcing di bagian puncak, menandai adanya mihrab di bawahnya.


Bangunan makam yang terdapat di sisi kiri dan kanan ruang shalat ini berdenah bujur sangkar dan beratap kubah dengan ukuran yang jauh lebih besar dari kubah di atas mihrab. Dinding luar kubah dihias dengan garis-garis sejajar dengan pola patah-patah. 



Pola tersebut terbilang unik dan tidak pernah ditemukan pada bangunan kubah di tempat lain. Tumpuan kubah berbentuk segi delapan, bertingkat-tingkat seperti tangga pada sudutnya. Pada sekeliling dinding kubah bagian bawah terdapat jendela.



Pada 1403, sebagaimana diuraikan George Michell dalam bukunya “Architecture of the Islamic World: North Africa and Sicily”, karena kekacauan politik yang melanda Kairo berdampak langsung pada masalah ekonomi dan keuangan pemerintahan Dinasti Mamluk, dekorasi dalam kompleks banyak yang tidak dapat diselesaikan.



Namun, setelah penguasa Mamluk berhasil mengatasi kekacauan tersebut, penambahan hiasan dan dekorasi khas bangunan-bangunan di Kairo pada bagian dinding bangunan Khanqah ini dapat dilanjutkan.


Thursday, 6 December 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (3)


Pembangunan kompleks Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq dimulai pada 1400 Masehi, namun karena situasi dan kondisi politik di dalam negeri pada masa itu yang penuh gejolak membuat proses pembangunan Khanqah ini baru selesai pada 1411 M.
  
Meski pembangunan Khanqah ini baru rampung pada 1411, namun menurut sejarawan abad kelima belas, Al-Maqrizi, bangunan Khanqah tersebut sudah diresmikan pada 1410. Peresmian tersebut dihadiri oleh empat puluh orang pengikut sufisme.   


Bangunan Khanqah ini memiliki dua buah menara kembar, kubah raksasa kembar, dan dua buah pintu masuk kembar yang tepat berada di kedua sisi ujung kanan dan kiri bangunan. 



Keseluruhan model dan corak bangunan bersejarah ini, jelas Abaza, mengedepankan gaya Arsitektur Mamluk Bahri yang banyak diadopsi oleh para ahli rancang bangun di zaman Mamluk Burji pertengahan.  



Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang bertajuk “Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim” memaparkan, Khanqah Faraj Ibnu Barquq terdiri dari satu unit bangunan besar yang berdiri sendiri. 



Bangunan tersebut berbentuk simetris berdenah bujur sangkar dengan ukuran 73 X 73 meter persegi. Tata letak bangunan mengedepankan pola hypostyle dengan sahn (halaman dalam) pada bagian tengah, juga berdenah bujur sangkar.



Empat buah iwan mengelilingi sahn, masing-masing lebarnya hampir sama. Sahn dikelilingi oleh kolom-kolom dengan pelengkung-pelengkung di atasnya (arcade).

Pelengkung-pelengkung tersebut tidak patah, sama dengan pelengkung model Romawi. Tepat di bagian tengah sahn terdapat tempat wudhu, yang merupakan tipikal kompleks semireligius di Kairo pada masa itu.  

Wednesday, 5 December 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (2)



Shela S Blair dan Jonathan M Bloom dalam bukunya “The Art and Architecture of Islam” mengungkapkan, lokasi yang dipilih Faraj untuk mendirikan kompleks megah tersebut pada awalnya merupakan sebuah lapangan pacuan kuda (hippodrome). 

Kemudian, pada zaman Mamluk awal, lahan tersebut dialihfungsikan menjadi tempat pemakaman bagi para sufi. 

Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian, kata Blair, membuat para imam sufi kerap menyepi dan mengasingkan diri ke tempat tersebut. Mereka pun kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat khusus untuk melakukan ritual tasawuf.

Ketika Faraj naik tahta dan berkuasa, ia berusaha membangun kembali tempat tersebut agar menjadi sebuah kompleks bangunan dengan berbagai macam fungsi. 

Saat proyek ini dimulai, ia memerintahkan membangun pemukiman luas, termasuk tempat-tempat pemandian, pabrik roti, penggilingan gandum, tempat menginap para musafir, dan sebuah pasar (bazar).

Namun, di antara berbagai bangunan tersebut, yang masih berdiri hingga saat ini hanyalah Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq, sebuah kompleks bangunan megah yang dikenal dengan pada zaman Mamluk, yang diperuntukkan bagi tempat tinggal para sufi.

Dalam tulisannya yang bertajuk “The Khanqah and Mausoleum of Sultan Faraj Ibn Barquq”, Ismail Abaza memaparkan, kompleks pemukiman para sufi ini sengaja dibangun oleh Sultan Faraj dalam rangka memenuhi keinginan sang ayah untuk dimakamkan di dekat makam para sufi di wilayah Kairo Utara.


Sumber : www.republika.co.id

Tuesday, 4 December 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (1)


Mesir dikenal sebagai negeri yang memiliki peradaban tertinggi di dunia. Bahkan, sejak dulu, negeri para Firaun ini sudah menghasilkan peradaban yang maju.
Hal itu pula yang akhirnya memantapkan umat Islam saat menguasai negeri seribu menara ini.


Pada masa Islam, negeri Mesir sempat dikuasai oleh sejumlah dinasti. Mulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, hingga Turki Usmani. Bahkan ketika berdiri, sejumlah peradaban dinasti kecil pun yang ada di Mesir tetap berdiri kokoh.


Salah satu dinasti kecil yang mampu menguasai Mesir adalah Dinasti Mamluk. Dinasti ini menjadikan Kairo sebagai pusat kekuasaannya.
Bahkan, ketika berhasil memukul mundur pasukan Timur Lenk, Kairo semakin mantap menjadi pusat kekuatan Mamluk. 


Sang pemimpin, yakni Az-Zahir Saifuddin Barquq, dalam waktu singkat berhasil membangun pusat pemerintahan Dinasti Mamluk di Kairo, sekaligus menjadi penguasa Mamluk pertama.


Seperti halnya dinasti Islam yang pernah berkuasa di Kairo, Mamluk juga banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan megah berarsitektur indah. Salah satunya adalah Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq.


Sebagai penguasa Mamluk di Kairo, Barquq membangun sebuah mausoleum (kompleks pemakaman mewah) yang diperuntukkan bagi keluarga dan keturunannya.
Karena keterbatasan lahan, sepeninggal Barquq salah seorang anaknya yang bernama Faraj berinisiatif untuk mendirikan sebuah kompleks (bangunan) yang luar biasa besarnya di luar kota Kairo bagian utara.

Tuesday, 27 November 2012

Masjid Sultan Asyraf Barsbay



Pada mulanya, Al-Asyraf Abu Nasr Barsbay adalah budak Sirkasia yang dibeli oleh pedagang Yahudi dan dibawa ke Aleppo Syiria. Ia kemudian dibeli oleh Barquq dan dibawa ke Kairo. Ia diberi mandat sebagai pengawal internal di dalam benteng kerajaan. Di masa pemerintahan Sultan Mu’ayyad Shah, ia diangkat sebagai pangeran dan dipercaya sebagai wakil sultan di Tripoli pada tahun 1418. Berkat jasa Sultan Shalih Muhammad bin Tatr, ia diangkat sebagai wakil sultan di Mesir. Akhirnya, pada tahun 1422 ia menyandang gelar sultan yang memegang tampuk kekuasaan selama 16 tahun.
Di masanya, ia berhasil melumpuhkan perompak Eropa di sekitar Ciprus yang selalu mengganggu pelaut muslim di Mediterania Timur. Ia juga membangun jalur perdagangan dengan Persia (Iran) dan India. Pada masa ini mulai dikenal mata uang al-Ashrafiyyah yang digunakan di wilayah Mesir dan sekitarnya.
Kejayaan Barsbay berakhir pada tahun 1438. Tapi kompleks pemakamannya sudah mulai dibangun pada 1432. Awalnya kompleks ini dimanfaatkan oleh 17 orang Sufi sebagai madrasah yang menyebarkan mazhab Imam Hanafi.
Seperti masjid Barquq, kompleks pemakaman ini terdiri dari makam, madrasah dan 2 sabil kuttab. Bangunan utamanya terlihat elegan. Memiliki 2 ruangan berkubah yang dihubungkan dengan sepasang lorong. Bangunan madrasah memiliki ruangan untuk sultan dan seorang sufi yang menjadi gurunya serta berdampingan dengan kamar para muridnya.
Arsitektur interiornya sangat impresif. Kompleks ini terkenal dengan mozaik lantai marmer yang indah. Keindahannya selaras dengan ketinggian kubah dan ornament-ornamen yang menghiasi interiornya.
Pola ukiran yang menghiasi sisi luar kubah bermotif jalinan bintang. Motif ini terlihat unik dengan bentuknya yang memanjang. Kubah ini diukir dengan sangat teliti. Pola geometri yang sambung menyambung membuat motif bintang menjadi berombak-ombak. Desain ini merupakan pergeseran dari ukiran berpola zigzag yang memang dominant pada masa itu.
Perhatikan sisi ukiran paling bawah dari kubah itu. Ukiran itu seperti motif mawar yang tak sempurna. Menurut para ahli, motif mawar yang tak sempurna itu menunjukkan bahwa pembuatan ukiran itu baru dimulai setelah kubah selesai dibangun, tidak bersamaan dengan pembangunan kubah.
Menara masjid dibangun terakhir setelah bangunan utama selesai. Bentuknya mengikuti gaya Turki utsmani, dengan puncak mengerucut. 
Dari jalan utama, kita disambut oleh pagar besi yang mengelilingi kompleks. Begitu masuk masjid, kita langsung disuguhi pemandangan yang sangat kontras dengan bangunan-bangunan era Mamluk pada umumnya. Tidak seperti kompleks sultan Inal, Qurqumas dan Barquq yang memiliki halaman tak beratap di dalam masjid, masjid ini cenderung memanjang dan sempit. Ada dua ruang utama dalam masjid itu. Keduanya dipisahkan oleh sebuah lorong dengan lantai sedikit lebih rendah. Ruang ini bergaya Yunani-Romawi klasik.
Mihrab masjid ternyata baru ditambahkan pada tahun 1953. Mihrab ini dianggap sebagai salah satu mihrab terbaik di Kairo. Ukiran berpola bintang dipahat di atas gading. Lantainya yang mewah tersusun atas marmer hitam putih, batu kapur merah oranye dan kerang mutiara. Jendelanya berukir semen dengan kaca temaram. Atap yang berwarna-warni menunjukkan bahwa masjid ini telah tersentuh perbaikan di era Turki Utsmani. Kamarnya berdinding jendela dua susun. Yang atas telah direstorasi dengan kaca berwarna bergaya modern.
Di ujung lorong ada sebuah makam. Monumen Barsbay yang terbuat dari marmer ungu dipasang di ruangan melingkar ini. Dekorasi mihrab dibuat lebih menonjol daripada bagian-bagian lain dengan kombinasi marmer dan kerang mutiara. Kubah tampak menjulang ke angkasa. Pencahayaan ruangan mengandalkan sinar matahari yang menembus jendela-jendela tradisional yang tertutup kaca warna-warni.
Di sebelah selatan masjid terdapat kompleks penginapan. Penginapan ini sama dengan penginapan-penginapan yang ada di kompleks Inal, Qurqumas dan Barquq. 

Sunday, 25 November 2012

Kompleks Pemakaman Amir Qurqumas



Kompleks pemakaman Amir Qurqumas ini berdampingan dengan makam Sultan Inal. Pada awalnya, Qurqumas adalah budak Sultan Qaytbay yang kemudian menjadi amir agung di bawah kepemimpinan Sultan al-Ghuri. Dia adalah komandan perang. Di hari kematinnya ia masih menjabat sebagai amir agung yang anti Ottoman.
Ibnu Iyas 'memberikan kita dengan obituari dan laporan pada pemakamannya, yang secara historis account menarik dari upacara ini selama periode mumluk:
Menurut Ibnu Ilyas, kematian Qurqumas terjadi pada hari Selasa tanggal 23 (Ramadhan). Saat itu Kairo berkabung. Prosesi pemakamannya diikuti oleh banyak orang, mulai dari pejabat hingga masyarakat awam.
Qurqumas adalah seorang perwira yang disegani. Ia memulai karirnya sebagai pelayan kedua kerajaan. Kemudian menjadi Komandan yang membawahi 1.000 tentara, Komandan Pengawal, dan akhirnya diangkat menjadi gubernur provinsi Aleppo pada masa pemerintahan Ashraf Janbalat, meskipun ia tidak pernah mencicipi jabatan itu. Ia dipenjarakan bersama sejumlah perwira yang lain di benteng Damaskus karena kecenderungannya kepada Tumanbay Amir Dawadar yang diangkat sebagai Sultan di Syiria.
Namun, setelah al-Ghuri berkuasa, ia dibebaskan dan dipanggil ke Kairo dan dilantik sebagai Menteri Perang. Tugasnya kemudian digantikan oleh Marsekal Qayt Rajabi ia dijebloskan ke penjara untuk kedua kalinya, tepatnya di Alexandria pada tahun 1505. Total, ia menjabat sebagai Marsekal selama enam tahun lebih 23 hari. Di usianya ke-60 dia jatuh sakit. Dia akhirnya berpulang ke haribaan ilahi dengan meninggalkan empat anak-anak dan kekayaan senilai sekitar 70.000 dinar (di luar asset bergerak nya). Dia meninggal sebelum Ottoman menggulingkan rezim Mamluk Mesir antara tahun 1.516 dan 1517.
Kompleks ini sempat dialih fungsikan untuk tujuan militer (sebagai gudang penyimpanan mesiu). Di depannya juga dibangun pabrik batu bata yang sangat sederhana. 
Masjid ini hanyalah salah satu dari sejumlah bangunan yang dibangun di kompleks Ququmas. Sebenarnya masih ada bangunan lain termasuk dapur, gudang, penginapan, sumur, kandang ternak dan tempat wudhu.
Kompleks pemakaman ini memiliki tata letak yang hampir mirip dengan Masjid Sultan Qaytbay. Sistem pengajaran di kompleks ini tampaknya tidak memiliki ritual-ritual khusus.
Menara masjid berada di sisi kanan, sementara sabil kuttabnya di sisi kiri. Kubahnya sendiri terletak di sudut tenggara bangunan berdampingan dengan ruang salat. Kubah ini memiliki proporsi dan skala yang sama dengan kubah Qaytbay meski ukiran geometrisnya tak serumit Qaytbay. Ukiran kubah ini berpola belah ketupat di bagian bawah dan pola zigzag di bagian atas.
Sedangkan menaranya bermotif belah ketupat di bagian tengah. Bagian atas terdiri dari susunan tiang-tiang yang menyangga puncaknya. Bentuknya hampir mirip menara Masjid Sultan Inal dan Qaytbay. Di sana juga ada tiga pilar pendukung yang digunakan untuk menggantung lampu masjid.
Di kompleks ini terdapat sebuah istana yang telah direservasi. Istana ini berupa sebuah lorong di sisi selatan makam. Hunian ini memiliki besi-besi besar beratapkan bukaan melengkung yang melingkupi sudut-sudut makam. Bangunan ini dapat dicapai dari pintu utama di halaman atau dari tangga internal di sisi lain dari makam. Di lantai dasar disediakan gudang dan kandang ternak. Sementara di lantai atas terdapat halaman terbuka, aula, kamar tidur, dan toilet. Desain interior seperti ini sering digunakan oleh yayasan-yayasan keagamaan saat itu.
Dengan demikian, kompleks Barsbay memiliki apartemen yang berdampingan dengan bangunan utama. Apartemen dua lantai ini berdiri di kedua sisi jalan menuju pemakaman. Salah satu sisinya masih bertahan hingga sekarang. Sedangkan sisi yang lain hamper runtuh. Ruangan-ruangannya diatur secara simetris di sepanjang koridor, setiap unitnya dilengkapi dengan tangga spiral sendiri. Masing-masing tangga memutar searah jarum jam. Ternyata ada filosofi tersendiri di sini. Untuk meniti tangga ini, Seseorang harus melangkah pertama kali dengan kaki kanannya. Apartemen ini bisa dihuni oleh delapan anggota yayasan, beserta keluarganya masing-masing. Selain difungsikan sebagai masjid, bangunan ini juga difungsikan sebagai Khanqah (kediaman para sufi).
Pada tahun 1983-1988, kompleks ini telah diperbaiki oleh Tim Restorasi Monumen Islam atas kerja sama Mesir dan Polandia. Saat ini, restorasi kompleks ini berada di bawah pengawasan Departemen Kebudayaan. Selama proses restorasi ini, kediaman sang pendiri sempat rusak parah akibat gempa bumi pada tahun 1992. Proyek ini mengambil pendekatan yang menarik. Mereka tidak memindah puing-puing sisa reruntuhan bangunan dan membiarkannya dalam keadaaan terbuka untuk menunjukkan sisi fungsional bangunan yang sebenarnya. 

Friday, 23 November 2012

Masjid Sultan Qaytbay



Qaytbay adalah salah satu sultan Barsbay dinasti Mamluk. Pada awalnya, Mamluk adalah sebutan untuk seorang budak. Qaytbay sendiri awalnya dibeli seharga lima puluh dinar. Setelah ditebus, Qaytbay kemudian meniti karir hingga menjadi komandan tentara sampai akhirnya menjadi sultan. Dia memerintah cukup lama, dari tahun 1.468 sampai 1.496 M. Rekornya hanya bisa dipecahkan oleh Nasir Muhammad. Dia terkenal karena kekuatan staminanya dan kehebatan bela dirinya. Prioritas utama pemerintahannya adalah mengembangkan hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani dan promosi perdagangan, terutama dengan Italia. 
Sultan Qaytbay adalah bapak pembangunan Mesir yang sangat produktif sebagaimana Nasir Muhammad pada abad keempat belas. Selama masa pemerintahannya yang cukup lama, ia membangun 85 struktur bangunan di Suriah, Palestina, Mekkah, Alexandria dan Kairo . Arsitektur dalam negeri lebih mencolok daripada arsitektur asing. Pada masa ini, ukiran batu memasuki zaman keemasannya. Artistik batu cenderung menuju ke arah perbaikan. Kerajinan marmer memainkan peran penting dalam dekorasi eksterior bangunan. 
Salah satu monumen utama yang bisa dijadikan tolok ukur masa ini adalah kompleks masjid Qaytbay yang dibangun antara tahun 1472 sampai 1474 M. Sebenarnya kompleks ini terdiri dari masjid, madrasah dan makam pendirinya. Tapi sayangnya, kini tinggal tersisa bangunan masjidnya yang berkubah dan bermenara tunggal. 
Di sebelah kiri bangunan ada sabil - kuttab (tempat persinggahan para penuntut ilmu). Sementara sebelah kanan ada menara. Di sisi tenggara ada kubah kecil tapi megah. Di bawah kubah itu terdapat makam pendiri masjid. Ukiran pada kubah tersebut berpola lurus berlapis bintang berukir yang ditumpangkan pada ukiran arabesque bergelombang.
Menara batu itu berukiran bintang, ramping dan elegan. Pada permukaannya terdapat dua desain yang rumit, kompleks, tetapi masih jelas. Salah satunya polos, lurus berlapis pola bintang. Yang lainnya bergelombang arabesque bermotif bunga yang berlekuk-lekuk dan tersembunyi. 
Puncak menara berbentuk lonjong telur. Sebuah ukiran memutar di lehernya. Ini adalah salah satu menara yang paling indah di Kairo. Sabil kuttab memiliki langit-langit kayu berlapis emas. Di ruang depan ada bangku batu dan lemari dengan pintu berhias kayu dan gading.
Gaya kubah payung di atas lorong yang mengarah ke bagian dalam masjid sangat cantik. Di sini, kita juga bisa menemukan pintu kisi kayu, di situ ada kendi yang menjaga air tetap dingin. Lantainya marmer dan jendelanya berupa kaca berwarna-warni. Langit-langit masjid ini adalah contoh indah dari dekorasi komposit yang menggunakan tiga bentuk hiasan utama yang meliputi desain kaligrafi, geometris dan arabesque. Ornamen bintang menjadi bagian paling mencolok di sini. Meski dekorasinya menakjubkan, namun tetap tidak mengesampingkan efeknya yang kalem dan tenang.
Mihrabnya berdinding batu dengan pola hias yang dikenal dengan pola albaq. Di atap masjid itu terdapat sebuah prasasti. Makamnya bisa diakses dari ruang tengah. Makam ini merupakan salah satu makam yang paling mengesankan di Kairo. Di dalamnya ada sebuah mihrab berdinding kayu yang dihiasi batu pendentives yang telah diukir dan dicat.  Beberapa meter di atasnya menjulang kubah besar yang menjadi ikon masjid ini.
Di samping itu, ada lagi sebuah makam kecil berukiran arabesque. Makam ini terletak di sisi barat masjid, dibangun oleh Qaytbay sebelum ia menjadi seorang sultan. Ada yang mengatakan bahwa makam itu dibangun untuk anaknya. Kubah makam ini berukuran lebih kecil. Di sini juga ada ruang tunggu yang dibangun di atas gudang. Ruang ini dihiasi dengan deretan jendela yang melengkung hingga luar ruangan. Zaman dulu, di sisi utara masjid juga terdapat ruang khusus yang dilengkapi dengan roda pemasok air untuk hewan ternak.

Komplek Sultan Faraj bin Barquq


Masjid ini awalnya adalah khanqah, semacam pondok untuk para sufi. Mulai dibangun pertama kali pada 1400 M oleh Sultan Faraj Ibn Barquq (1382-1399 AD) untuk memenuhi permintaan ayahnya yang ingin dimakamkan di dekat makam para sufi di kompleks pemakaman bagian utara (the city of dead). Pembangunannya baru selesai 11 tahun kemudian, tapi setahun sebelumnya sudah ada peresmian yang menghadirkan 40 orang. Masjid ini terkenal sebagai masjid terbesar di kawasan itu, hingga sekarang. Sultan Barquq akhirnya dimakamkan di kompleks ini, di dekat makam ayahnya, Anas (1382). Sultan Barquq tercatat sebagai raja Mamluk Burgi pertama yang dikubur di kawasan ini.
Khanqah dibangun dengan tujuan urbanisasi situs. Sayangnya sebelum rencana ini terealisasi, Sultan Faraj sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Oleh sejarawan abad kelima belas, al-Maqrizi, dia digambarkan sebagai "raja yang paling tragis di Mesir". Sultan Faraj naik takhta pada usia sepuluh tahun, dan di usianya yang ke-23 ia digulingkan dan dibunuh di Damaskus. Di sela-sela pembangunan ini, sang sultan terpaksa harus dicopot jabatannya sebanyak 2 kali. Ia juga harus bolak-balik Mesir-Syiria untuk meredam pemberontakan. Tapi perjuangannya itu tak sia-sia. Khanqah akhirnya bisa berdiri megah.
Awalnya kompleks direncanakan sebagai pusat perumahan daerah. Pemakaman Muslim abad pertengahan bukan semata-mata makam orang mati tapi juga sebagai istana dan hunian. Selain itu juga ada ruangan untuk para sufi dan pelajar. Bangunan ini dileangkapi dengan dua menara kembar, dua kubah kembar dan dua sabil kuttab (tempat singgah), masing-masing di sebelah kanan dan kiri. Di bawah kedua kubah itu terdapat makam sultan Barquq dan ayahnya.
Menariknya, bangunan ini memiliki banyak ruang tapi tanpa pembatas yang jelas. Sang arsitek mampu membuat ruangan besar yang simetris. Ini bukan bentuk yang lazim pada masa itu. Di sudut barat daya ada portal trilobed di sebelah kiri sabil kuttab. Ada portal lain di utara. Di sudut barat juga ada sabil kuttab lagi. Portal-portal ini tidak identik, keduanya memiliki keong pada stalaktit dan blazonnya. Di sisi utara ada lorong yang dimulai di sisi kiri bangunan dan mengarah hampir ke makam ayah Barquq. Diperkirakan lorong ini digunakan sebagai tempat berdoa untuk orang yang mati.
Di atas makam Barquq dan ayhanya ada Kubah luar yang terbuat dari batu terbesar pertama di era Mamluk. Diameternya lebih dari empat belas meter. Sebenarnya kubah Imam Syafi'i masih lebih besar dari kubah ini, hanya saja kubah itu terbuat dari kayu. Sebuah pola zigzag (chevron) menghiasi eksteriornya.  zona transisinya tidak biasa. kubah ini diukir dengan model satu cekung dan satu cembung sehingga menciptakan pola bergelombang. Sebenarnya di bawah kubah itu ada kubah lebih kecil yang terbuat dari batu bata. Namun sayangnya tak bisa terlihat dari luar.
Di sisi barat laut terdapat dua menara yang menjulang ke angkasa. Menara itu terdiri dari tiga struktur. Bagian bawah menara itu berbentuk kotak. Tingkat kedua membentuk silinder. Tingkat ketiga berbentuk tiang-tiang segi delapan dan puncaknya bulat seperti telur diakhiri dengan struktur tiang melancip.
Dalam bangunan ada sebuah halaman, ruang terbuka tanpa atap. Di tengah-tengahnya terdapat tempat wudhu yang kini tidak berfungsi lagi. Di sisi kanan-kiri halaman itu, ada ruwaq-ruwaq yang digunakan sebagai madrasah dengan pintu-pintu melengkung yang khas. 
Di sudut barat lau sebenarnya ada tangga untuk menuju lantai dua. Di lantai dua terdapat lorong-lorong dan bilik-bilik kamar. Namun tampaknya ruangan ini sudah tak difungsikan lagi.
Dinding-dinding bangunan ini tidak dicat juga tidak dimarmer atau dikeramik, hanya coklat polos. Di samping mihrab ada dikka, tempat al-Qur’an dilantunkan. Ia diapitr oleh dua buah relung yang lebih kecil. Di situ ada sebuah ukiran menarik berpola geometris dan bunga yang ditambahkan oleh Sultan Qaitbay tahun 1483. Di background mimbar bisa ditemukan tempat lampu minyak yang diapit sepasang lilin yang diukir.
Makam sebelah utara adalah makam Barquq dan Faraj bersama anak yang terakhir, sedangkan makam selatan adalah makam Shiriz dan Shakra. Kedua makam itu memiliki pintu masuk yang tertutup oleh kisi kayu dengan ukiran pola geometris. Interior kubahnya sangat menakjubkan. Hiasan geometri yang dilukis di bawah kubah itu berwarna merah kecoklatan, sangat indah. Di tepi hiasan ada jendela yang tertutup kaca warna-warni, sehingga sinar matahari yang masuk tampak memperindah ukiran di dalamnya.

Sedikit Mengenal Sultan Inal



Komplek sultan Inal merupakan salah satu peninggalan bersejarah di mesir yang masih tampak  kokoh nan indah hingga saat ini.  Terletak di jalan sultan ahmad beberapa meter dari jalan Al-azhar.

Komplek yang dibangun pada tahun 1451-1456 ini Mulanya  hanyalah pemakaman indah yang dibangun oleh sultan inal saat masih menjabat sebagai amir, kemudian setelah menjadi sultan, dibangun sebuah khanqah,  madrasah, masjid, sabil kutab dan juga zawiya disekeliling makam.

Bangunan ini dipenuhi ukiran-ukiran menarik dari marmer, akan tetapi hanya tersisa sedikit pada saat ini, adanya menara dan kubah semakin mempercantik komplek ini dan kubahnya terbuat dari batu yang di hiasi dengan ukiran berpola zigzag.
Disudut komplek ini terdapat makam sultan inal beserta istri dan dua anaknya ahmad dan Muhammad.

saifuddin abu nasor inal bin Abdullah al’alai adhohiri annasiri awalnya adalah budak yang dibeli oleh seorang pedagang yang bernama Ala’addin, kemudian ia di jual kepada sultan Ad-dhahir Barquq, pendiri dinasti mamluk Burji pada tahun 1397. inal menjadi prajurit selama menjadi pelayan sultan barquq.

Setelah kematian sultan barquq, naiklah anaknya sultan an-nasr farag yang menggantiknya, dan ketika itu sultan inal dibebaskan dan derajatnya disamakan dengan keturunan sirkasia yang lainya.

Karir sultan inal terus melejit melalui jajaran militer hingga pada tahun 1428 ia di angkat menjadi gubernur di daerah gaza pada masa sultan al-asraf barsbay, sultan inalpun dipuji-puji karena menjadi gubernur yang adil saat berkuasa.

Pada tahun 1445 dibawah sultan addhohir jaqmaq, inal diangkat menjadi komandan militer.

inal menjadi sultan menggantikan sultan Mansur usman anak dari sultan addhohir jaqmaq yang tidak diakui oleh rakyat sebagai sultan pada tahun 1453.
 selama pemerintahannya, sultan inal banyak membeli budak untuk dijadikan prajurit, dan membangun dan memperbaiki prasarana umum seperti perluasan jalan.

Sultan inal wafat disebabkan wabah penyakit yang menyerang mesir  pada tahun 1461 dan ia berkuasa selama 7 tahun 11 bulan.

Wednesday, 7 November 2012

Mausoleum Sultan Faraj, Gaya Arsitektur Mamluk (4-habis)



Struktur Simetris Al-Faraj
Salah satu aspek yang paling menarik dari struktur bangunan Khanqah ini adalah tidak adanya pembatasan terhadap ruang-ruang yang terdapat pada bangunan tersebut, sehingga sang arsitek mampu untuk merancang sebuah struktur bangunan yang sangat simetris berukuran besar.

Bangunan yang tampak berdiri sendiri ini terlihat menarik dengan adanya dua buah pintu gerbang berhiaskan tiga buah pelengkung pada bagian sisi barat daya dan utara. Posisi kedua pintu gerbang yang berada di bawah menara membuat simetrisitas bangunan menjadi semakin kuat. 

Selain itu, dua buah sabil-kuttab ditempatkan di sisi barat dan selatan bangunan Khanqah. Sabil-kuttab merupakan tempat singgah dan peristirahatan bagi para pelancong yang melewati kawasan itu.

Sebuah anak tangga terdapat pada bagian dinding menara. Para pengunjung bisa mencapai bagian atas menara kembar ini melalui anak tangga tersebut. Dari atas menara ini kita bisa menyaksikan pemandangan indah—selain pemandangan pemakaman—yang terhampar di sekeliling bangunan Khanqah.

Di sisi utara kompleks Khanqah Sultan Faraj Ibnu Barquq ini terdapat sebuah lorong beratap yang bagian ujungnya berakhir di makam ayah Sultan Barquq, yakni Anas.

Para sejarawan arsitektur memperkirakan lorong tersebut mungkin dimaksudkan sebagai ruang shalat. Pada bagian tempat shalat ini terdapat kubah kecil, runcing di bagian puncak, menandai adanya mihrab di bawahnya.

Bangunan makam yang terdapat di sisi kiri dan kanan ruang shalat ini berdenah bujur sangkar dan beratap kubah dengan ukuran yang jauh lebih besar dari kubah di atas mihrab. Dinding luar kubah dihias dengan garis-garis sejajar dengan pola patah-patah. 

Pola tersebut terbilang unik dan tidak pernah ditemukan pada bangunan kubah di tempat lain. Tumpuan kubah berbentuk segi delapan, bertingkat-tingkat seperti tangga pada sudutnya. Pada sekeliling dinding kubah bagian bawah terdapat jendela.

Pada 1403, sebagaimana diuraikan George Michell dalam bukunya “Architecture of the Islamic World: North Africa and Sicily”, karena kekacauan politik yang melanda Kairo berdampak langsung pada masalah ekonomi dan keuangan pemerintahan Dinasti Mamluk, dekorasi dalam kompleks banyak yang tidak dapat diselesaikan.

Namun, setelah penguasa Mamluk berhasil mengatasi kekacauan tersebut, penambahan hiasan dan dekorasi khas bangunan-bangunan di Kairo pada bagian dinding bangunan Khanqah ini dapat dilanjutkan.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India